Sabtu, 15 Desember 2012

Hambatan -Hambatan Dalam Komunikasi



FAKTOR-FAKTOR PENGHAMBAT DALAM
BERKOMUNIKASI DI LINGKUNGAN KERJA

A.        Pendahuluan
1.            Definisi Komunikasi
Istilah komunikasi berasal dari kata Latin Communicare atau Communis yang berarti sama atau menjadikan milik bersama. Kalau kita berkomunikasi dengan orang lain, berarti kita berusaha agar apa yang disampaikan kepada orang lain tersebut menjadi miliknya.
Beberapa definisi komunikasi :
1.      Komunikasi adalah kegiatan perilaku atau kegiatan penyampaian pesan atau informasi tentang pikiran atau perasaan (Roben.J.G).
2.      Komunikasi adalah sebagai pemindahan informasi dan pengertian dari satu orang ke orang lain (Davis, 1981).
3.      Komunikasi adalah berusaha untuk mengadakan persamaan dengan orang lain (Schram,W).
Komunikasi merupakan suatu proses yang mempunyai komponen dasar  sebagai berikut : Pengirim pesan, penerima pesan dan pesan.
Komunikasi merupakan sarana untuk terjalinnya hubungan antar seseorang dengan orang lain, dengan adanya komunikasi maka terjadilah hubungan sosial, karena bahwa manusia itu adalah sebagai makluk sosial, di antara yang dengan yang lainnya saling membutuhkan, sehingga terjadinya interaksi yang timbalk balik. Dalam hubungan seseorang dengan orang lain tentunya terjadinya proses komunikasi itu tentunya tidak terlepas dari tujuan yang menjadi topik atau pokok pembahasan, dan juga untuk tercapainya proses penyampaian informasi itu akan berhasil apabila ditunjang dengan alat atau media sebagai sarana penyaluran informasi atau berita.

2.         Jenis Komunikasi
          Pada dasarnya komunikasi digunakan untuk menciptakan atau meningkatkan aktifitas hubungan antara manusia atau  kelompok
Jenis komunikasi terdiri dari:
1.    Komunikasi verbal dengan kata-kata
2.    Komunikasi non verbal disebut dengan bahasa tubuh

B.        Pengertian Organisasi
            Ada beberapa macam pendapat mengenai apa yang dimaksud dengan Organisasi, diantaranya :
1.         Menurut pendapat Schein (1982) mengatakan bahwa Organisasi suatu koordinasi rasional kegiatan sejumlah orang untuk mencapai beberapa tujuan melalui pembagian pekerjaan dan fungsi secara hierarki otoritas dan tanggungjawab.  Schein mengatakan bahwa Organisasi mempunyai karakteristik tertentu seperti Struktur, Tujuan, saling berhubungan satu sama lain.  Sifat tergantung antara satu bagian dengan baigian lain dimaksudkan Schein adalah merupakan suatu Sistem.
2.         Menurut pendapat Kochler (1976) mengatakan bahwa Organisasi adalah Sistem hubungan yang terstruktur yang mengkoordinasi usaha suatu kelompok orang untuk mencapai tujuan tertentu.
3.         Menurut pendapat Wright (1977) mengatakan bahwa Organisasi adalah suatu bentuk sistem terbuka dan aktivitas yang dikoordinasi oleh dua orang atau lebih untuk mencapai suatu tujuan bersama.
C.        Komunikasi Dalam Organisasi

             Komunikasi merupakan proses penyampaian suatu pesan dalam bentuk lambang bermakna sebagai paduan pikiran dan perasaan berupa ide, informasi, kepercayaan, harapan, himbauan dan sebagainya, yang dilakukan kepada orang lain baik langsung secara tatap muka maupun tidak langsung melalui media dengan tujuan mengubah sikap, pandangan, atau perilaku (Effendi, 1998: 60).
          Komunikasi dalam organisasi merupakan komunikasi yang terjadi dalam organisasi itu sendiri. Misalnya, Pertukaran gagasan di antara para administrator dan karyawan dalam suatu satuan kerja (satker) dengan satker lainnya atau bagian-bagian yang terdapat dalam lingkungan satker itu sendiri. Dalam struktur lengkap yang khas disertai pertukaran gagasan secara horisontal dan vertikal di dalam Organisasi Kerja atau satuan kerja sehingga pekerjaan berjalan sesuai dengan prosedur dan rencana kerja yang telah ditetapkan.
Komunikasi Organisasi dapat didefinisikan sebagai pertunjukkan dan penafsiran pesan di antara unit-unit komunikasi yang merupakan bagian suatu organisasi tertentu. Suatu organisasi terdiri dari dari unit-unit komunikasi dalam hubungan hierarkis antara yang satu dengan lainnya dan berfungsi dalam suatu lingkungan.

          Dalam lingkungan tempat kami bekerja terdapat 3 jenis komunikasi yang bisa kita kelompokkan antara lain;

1.         Komunikasi Vertikal
2.         Kumunikasi Horizontal
3.         Komunikasi Diagonal

1.         Komunikasi Vertikal
          Komunikasi Vertikal  merupakan Komunikasi dari pimpinan ke staff, dan dari staf ke pimpinan dengan cara timbal balik [two way traffic communication]. Dalam situasi ini dapat digambarkan pada saat pimpinan memberikan pengarahan, informasi atau penjelasan tentang “sesuatu hal”, dimana isi dari pesan tersebut harus dapat diterima oleh staff. Contoh pada saat pelaksanaan apel, acara khusus pembinaan satuan (binsat), Amanat yang dibacakan pada saat upacara bendera dll.
          Kendala atau hambatan yang sering terjadi dalam proses komunikasi vertikal adalah; struktur organisasi (jalur hirarki), perintah yang bertentangan dengan aturan, perintah/instruksi/arahan yang tidak jelas sehingga menimbulkan banyak penafsiran.
2.         Komunikasi Horizontal
Komunikasi horisontal adalah komunikasi secara mendatar, misalnya komunikasi antara karyawan dengan karyawan dan komunikasi ini sering kali berlangsung tidak formal yang berlainan dengan komunikasi vertikal yang terjadi secara formal. Namun demikian komunikasi horisontal bisa saja terjadi secara formal, ketika sesama  karyawan saling berkoordinasi membagi tugas pekerjaan untuk tujuan kerja sama. Contoh dalam satu bagian bidang pekerjaan penerimaan surat, dimana dalam bagian tersebut terdapat lebih dari dua orang yang memiliki bidang tugas yang sama maka karyawan tersebut saling berkoordinasi (mengkomunikasikan) bidang tugas tersebut.
Kendala atau hambatannya yaitu dengan kedudukan yang setara/setingkat diantara karyawan maka sulit untuk memberikan peringatan bila salah satu karyawan melakukan indisipliner (tindakan tidak disiplin).
3.         Komunikasi Diagonal
Komunikasi diagonal yang sering juga dinamakan komunikasi silang yaitu seseorang dengan orang lain yang satu dengan yang lainnya berbeda dalam kedudukan dan bagian (Effendy, 2000 : 17).
Komunikasi yang mengalir dari satu tingkat dalam suatu kelompok atau organisasi ke suatu tingkat yang lebih bawah atau komunikasi yang mengalir ke suatu tingkat yang lebih tinggi dalam kelompok atau organisasi.  Ataupun komunikasi yang terjadi di antara kelompok kerja yang sama, diantara anggota kelompok-kelompok kerja pada tingkat yang sama, diantara manajer-manajer pada tingkat yang sama. Komunikasi ini dilakukan dalam rangka berkoordinasi untuk menjalankan suatu kegiatan guna memajukan organisasi.
Contoh
Ketika seorang Kepala Bagian dari satker meminta pendapat/berkoordinasi tentang alamat rumah/kediaman pejabat karena ada surat  yang harus segera diterima oleh pejabat yang bersangkutan, sehingga Kepala Bagian tersebut meminta informasi/berkomunikasi dengan staf dari pejabat tersebut.
Hambatan yang sering terjadi adalah keterbatasan pengetahuan dari staf yang bersangkutan, dimana diharapkan staf tersebut dapat memberikan informasi yang jelas, namun kenyataannya tidak diperoleh informasi yang diharapkan.

D.        FAKTOR-FAKTOR YANG MENJADI PENGHAMBAT DALAM BERKOMUNIKASI
Proses komunikasi yang berlangsung di antara individu tidak selalu berlangsung mulus dan lancar. Adakalanya pesan yang akan disampaikan tersebut mendapat hambatan sebelum sampai kepada komunikan. Hambatan-hambatan tersebut bisa disebabkan karena beberapa faktor, antara lain:


1.            Hambatan dari Proses  Komunikasi
·        Hambatan dari pengirim pesan, misalnya pesan yang akan disampaikan belum jelas bagi dirinya atau pengirim pesan, hal ini dipengaruhi  oleh perasaan atau situasi emosional.
·        Hambatan dalam penyandian/simbol
Hal ini dapat terjadi karena bahasa yang dipergunakan tidak jelas sehingga mempunyai arti  lebih dari satu, simbol yang dipergunakan antara si pengirim dan penerima tidak sama atau bahasa yang dipergunakan terlalu sulit.
·        Hambatan media, adalah hambatan yang terjadi dalam penggunaan media komunikasi, misalnya gangguan suara radio dan aliran listrik sehingga tidak dapat mendengarkan pesan.
·        Hambatan dalam bahasa sandi. Hambatan terjadi dalam menafsirkan sandi oleh si penerima
·        Hambatan dari penerima pesan, misalnya kurangnya perhatian pada  saat menerima /mendengarkan pesan, sikap prasangka tanggapan yang keliru dan tidak mencari informasi lebih lanjut.
·        Hambatan dalam memberikan  balikan. Balikan yang diberikan tidak menggambarkan apa adanya akan tetapi memberikan interpretatif, tidak tepat waktu atau tidak jelas dan sebagainya.
2.            Hambatan Fisik
Hambatan fisik dapat mengganggu komunikasi yang efektif, cuaca gangguan alat komunikasi, dan lain lain, misalnya: gangguan kesehatan, gangguan alat komunikasi dan sebagainya.
3.            Hambatan Semantik.
Kata-kata yang dipergunakan dalam komunikasi  kadang-kadang mempunyai  arti mendua yang berbeda, tidak jelas atau berbelit-belit antara pemberi pesan dan penerima
4.            Hambatan Psikologis.
Hambatan psikologis dan sosial kadang-kadang mengganggu komunikasi, misalnya; perbedaan nilai-nilai serta harapan yang berbeda antara pengirim  dan penerima pesan.
5.         Faktor Pendidikan/pengetahuan
Pendidikan merupakan faktor peting bagi seorang pegawai, karena dengan pendidikan akan meningkatkan keterampilan seorang pegawai. Oleh karena itu di Setum TNI mengadakan berbagai kursus untuk meningkatkan pengetahuan  dan keterampilan seorang pegawai. Karena itu seorang pegawai yang telah dibekali pengetahuan akan lebih terampil dan professional mengatasi suatu masalah dalam pekerjaan dibandingkan pegawai yang tidak dibekali pengetahuan/kursus tertentu. Selain itu pula dalam hal wawasan, penggunaan bahasa atau pemilihan kosa kata, bobot pembicaraan akan terlihat perbedaan dalam pergaulan atau berkomunikasi diantara orang yang memiliki pengetahuan atau berpendidikan akan berbeda, sehingga bila berinteraksi seorang pegawai yang berpendidikan lebih rendah akan mengalami kesulitan dalam berkomunikasi.
6.         Faktor Pengalaman
Sebagaimana faktor pengetahuan seorang pegawai yang memiliki pengalaman lebih bisa menjadi sumber informasi untuk mengomunikasikan cara kerja/sistem kerja kepada pegawai lain yang membutuhkan sehingga bisa dijadikan contoh bagi pegawai lain yang masa kerjanya lebih sedikit atau kurang berpengalaman. Pengalaman yang kurang akan menghambat efektifitas kinerja satuan kerja (satker), yang terkadang dibutuhkan kecepatan dan ketepatan dalam hal penyelesaian pekerjaan.
7.         Faktor Intelegensia.
Faktor Intelegensia yang rendah bisa menjadi penghambat seorang pegawai, karena pegawai dengan daya nalar rendah akan sulit berkomunikasi. Hal ini sering kita alami dalam pergaulan sehari-hari. Kita sering mendengar istilah “telmi” alias telat mikir, untuk menggambarkan orang yang memiliki daya nalar rendah.
Sebagai contoh ketika pimpinan kita memerintahkan untuk membuat surat, hanya memberikan selembar konsep. Bila kita tidak dapat memahaminya dengan daya nalar yang baik maka selembar konsep tersebut kemungkinan tidak berproses menjadi sebuah surat. Oleh karena itu dibutuhkan daya nalar yang kuat sehingga kita bisa melaksanakan tugas sesuai keinginan pimpinan.
8.         Faktor Kepribadian
Seorang yang memiliki kepribadian menarik biasanya akan mudah untuk berkomunikasi dan beradaptasi dengan lingkungan kerja. Ada beberapa pegawai kita yang berperilaku apriori, prasangka yang didasarkan  atas emosi, suasana yang otoriter, ketidak mampuan untuk berubah  walaupun salah, sifat yang egosentris. Contoh kasus adalah ketika seorang pegawai yang merasa lebih pintar, lebih berpengalaman, lebih  tinggi pangkat dan jabatan dan lebih senior dari pegawai lain, hal tersebut akan menghambat komunikasi, karena watak/kepribadian diatas akan dijauhi oleh rekan sekerja sehingga menyulitkan diri sendiri.
9.         Faktor Biologis
Kecenderungan kita umumnya menilai personel dengan penampilan fisik seseorang seperti ketampanan, kecantikan, kecerdasan, bakat atau keahlian tertentu sehingga berakibat pada perilaku seseorang dalam berkomunikasi. Sehingga bagi pegawai yang tidak memiliki kriteria diatas dianggap tidak memiliki potensi, kecapakapan atau kemampuan dalam bekerja. Akibatnya pegawai tersebut merasa malu  dan kurang percaya diri untuk berkomunikas dengan orang lain.
10.      Faktor Bahasa
Kita ketahui bersama bahwa bahasa merupakan sarana dasar komunikasi, sehingga diharapkan kita tidak menggunakan bahasa daerah dalam berkomunikasi yang hanya diketahui oleh pegawai yang berasal dari daerah yang sama. Contoh dilingkungan tempat kita bekerja didominasi oleh pegawai yang berasal dari suku Jawa atau suku Sunda. Terkadang kita dengar mereka menggunakan bahasa daerah dalam berkomunikasi, sehingga menyulitkan pegawai lain yang berasal dari daerah lain (selain Jawa/Sunda) untuk berkomunikasi.
11.      Faktor Budaya
Faktor Budaya yang beragam dilingkungan kantor memiliki kecenderungan negatif  sehingga rawan menimbulkan miscomminication.  Miscommunication suatu proses dialogis antara individu dalam sebuah organisasi yang harus di waspadai. Padahal perselisihan dan perbedaan paham di kalangan pegawai dengan perbedaan latar budaya seharusnya dapat dihindari. Perbedaan persepsi sering mengganjal ekspresi komunikasi antara atasan dan bawahan atau sesama karyawan. Perang dingin pun menjadi kabel penghantar konflik individu dalam organisasi. Permusuhan dan sentimen pribadi mewarnai interaksi kerjasama karyawan, atasan dengan bawahan.
Sebagai contoh orang Batak cenderung bicara keras sehingga terkesan kasar dan tidak sopan dipandang oleh orang Jawa yang memiliki karakter lembut.
12.      Faktor Usia
Faktor Usia bisa menjadi penghambat dalam berkomunikasi. Seorang pegawai yang lebih tua merasa lebih senior, sehingga beranggapan bahwa pegawai tersebut lebih berpengalaman dan lebih pintar dibandingkan yang  lebih muda (junior).
Perbedaan usia memiliki kecenderungan yang lebih tua ingin dihormati sedangkan yang muda  cenderung berharap mendapat perhatian yang lebih sehingga rawan terjadi konflik. Konflik inilah yang menjadi penghambat dalam berkomunikasi.


E.        KESIMPULAN
Komunikasi merupakan suatu proses penyampaian pesan dan informasi, baik verbal maupun nonverbal dari seseorang kepada orang lain, sehingga terjadi saling pengertian mengenai suatu pesan atau informasi yang diiringi dengan perubahan sikap dan tingkah laku komunikan.

Ada beberapa cara untuk mengatasi  hambatan komunikasi, antara lain:
1.         Gunakan umpan balik (feedback), setiap orang yang berbicara memperhatikan umpan balik yang diberikan lawan bicaranya baik bahasa verbal maupun non verbal, kemudian memberikan penafsiran terhadap umpan balik itu secara benar.
2.         Pahami perbedaan individu atau kompleksitas individu dengan baik. Setiap individu merupakan pribadi yang khas yang berbeda baik dari latar belakang pendidikan,dan pengetahuan, pengalaman, budaya, dan usia. Dengan memahami, seseorang dapat menggunakan taktik yang tepat dalam berkomunikasi.
3.         Gunakan komunikasi langsung (face to face), Komunikasi langsung dapat mengatasi hambatan biologis, Intelegensia dan kepribadian komunikasi karena sifatnya lebih persuasif. Komunikator dapat memadukan bahasa verbal dan bahasa non verbal. Disamping kata-kata yang selektif dapat pula digunakan kontak mata, mimik wajah, bahasa tubuh lainnya dan juga meta-language (isyarat diluar bahasa) yang membuat komunikasi lebih berdaya guna.
4.         Gunakan bahasa yang sederhana dan mudah. Kosa kata yang digunakan hendaknya dapat dimengerti dan dipahami jangan menggunakan istilah-istilah yang sukar dimengerti pendengar. Gunakan pola kalimat sederhana (kanonik) karena kalimat yang mengandung banyak anak kalimat membuat pesan sulit dimengerti.
Dengan mengetahui dan memahami berbagai hambatan yang dihadapi dalam berkomunikasi, diharapkan kita dapat mengatasi berbagai hambatan tersebut, sehingga dapat memperlancar arus komunikasi.
Demikianlah makalah ini saya buat semoga dapat berguna bagi kita  semua khususnya untuk kita yang mengalami hambatan dalam berkomunikasi.

Tidak ada komentar: